PAN Resmi mengusung H. Syamsudin, M.Pd

Maret 15, 2011

Banjarnegara, 7 Maret 2011

Setelah ditunggu-tunggu oleh masyarakat Banjarnegara, bahwa sampai hari kemaren belum ada satu partaipun yang secara resmi mengusung Bakal Calon Bupati banjarnegara akhirnya Partai Amanat Nasional (PAN) untuk pertama kali secara resmi  menyatakan mengusung H. Syamsudin, M.Pd sebagai bakal Calon Bupati Banjarnegara  periode 2011 – 2016.

Ketegasan PAN dalam memutuskan untuk mengusung Bakal calon Bupati Banjarnegara, karena secara konstitusional memang memungkinkan untuk mengusung Bakal calon sendirian mengingat PAN adalah Partai Pemenang Pemilu di Banjarnegara yang memiliki 8 wakil parlemen di DPRD.

Namun demi kemajuan Banjarnegara PAN masih sangat berharap kepada Partai Politik lain agar bisa merapat untuk bersatu mengusung H. syamsudin, M.Pd. Hal tersebut didasari pada kenyataan riil bahwa sampai hari ini belum ada satu parpol pun yang secara resmi mengusung bakal calon pasangan bupati dan wakil bupati. Termasuk yang disebut-sebut Partai Demokrat  sudah mengusung salah satu Bakal Calon, ternyata juga belum memutuskan untuk itu.


PROGRAM PRIORITAS

Februari 10, 2010

PROGRAM PRIORITAS INI KAMI SUSUN SETELAH MENDAPATKAN

MASUKAN DARI BERBAGAI ELEMEN

MASYARAKAT. DENGAN DEMIKIAN TENTU PROGRAM PRIORITAS INI MASIH SANGAT MUNGKIN UNTUK BISA DIKEMBANGKAN TENTU SEMUANYA UNTUK KEBAIKAN BANJARNEGARA. KRITIK DAN SARAN DARI ANDA SEMUA SANGAT KAMI HARAPKAN.

Misi 1 : Menyelenggarakan pemerintahan yang tertib, amanah, akuntabel, transparan, efektif, efisien, bersih, menjunjung tinggi supremasi hukum, demokratis dan menjunjung tinggi hak azasi manusia dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.

Prioritas Program :

  1. Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan untuk mewujudkan sistem kepemerintahan yang baik (clean goverment and good governance).
  2. Pengembangan organisasi pemerintahan yang sesuai dengan potensi dan kondisi wilayah serta didukung aparatur yang profesional.
  3. Peningkatan kualitas aparatur.
  4. Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah.
  5. Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah.
  6. Peningkatan pengawasan aparatur pemerintah.
  7. Peningkatan kualitas dan kuantitas aparat pengawasan.
  8. Penerapan dan penegakkan hukum.
  9. Pembinaan  ketenteraman dan ketertiban.
  10. Penyebarluasan peraturan dan perundangan
  11. Peningkatan kualitas jangkauan dan pelayanan informasi.
  12. Pengembangan dan pemberdayaan media komunikasi dan informasi.
  13. Pengembangan infrastruktur demokrasi.
  14. Penataan struktur politik.
  15. Pengembangan budaya politik.
  16. Pengembangan, penataan dan penyuluhan hukum serta HAM.

Misi 2: Meningkatkan daya saing dan kualitas pertanian dan agrobisnis. Baca entri selengkapnya »


Potensi yang belum tergali

Desember 9, 2009

Budaya Spesial milik Banjarnegara

Banjarnegara sebenarnya amat kaya akan potensi yang bisa mendatangkan devisa kalau dikelola secara profesional.  Potensi alam sangat banyak mulai dari batu marmer, gas alam cair LPG, Panas Bumi, batu lapis dan sebagainya. Hasil bumi Banjarnegara juga sangat menarik banyak negara lain untuk mengimpornya, seperti kentang, caprica, purwaceng, dan sayur mayur dimana tidak semua daerah bisa menghasilkannya.

Seni budaya khas Banjarnegara juga tak kalah uniknya jika dibandingkan daerah lain sekalipun dengan Solo maupun Yogyakarta. Tari geol, tari Aplang, Tapi Jepin, Tari Ebeg dan lainnya sebenarnya sangat unik dan layak untuk dipromosikan. Karena beberapa tarian tersebut tidak dimiliki oleh daerah lain.

Barangkali yang perlu dikaji adalah bagaimana mengemas berbagai potensi yang sudah dimiliki oleh kita semua itu menjadi sesuatu yang istimewa. Reog yang oleh masyarakat Ponorogo dianggap biasa saja karena memang sudah menjadi tari keseharian mereka, kemudian di promosikan oleh Malaysia dengan sentuhan interteinment dan dukungan kuat dari pemerintah, menjadikan Reog sesuatu yang luar biasa di Malaysia. Ini semua terlepas dari ribut-ribut tentang hak milik. Kami pikir juga untuk apa kita merasa memiliki tetapi tidak bisa memanfaatkan milik kita tersebut secara optimal. Barangkali seorang yang berjiwa wiraswasta, memang tidak akan memusingkan siapa yang membuat barang tertentu, tetapi bagaimana bisa menjual barang itu dan mendatangkan hasil yang banyak. Mereka tidak terlalu ribet motor ini dan itu siapa yang membuat dan dari negara mana berasal, namun bagaimana motor yang ada bisa mendatangkan keberuntungan jika dia berhasil memasarkannya dengan baik.

Kembali kepada seni budaya Banjarnegara, tentu kita juga tidak ingin di “sadarkan” oleh orang lain dengan cara budaya yang kita miliki tersebut “diakui” oleh orang lain.  Sebelum hal demikian terjadi ada baiknya kita segera menyadari akan potensi yang kita miliki tersebut.

Kesadaran diri saja tentu belumlah cukup kalau kita tidak bisa “menjual”-nya sehingga bisa mendatangkan devisa sebanyak-banyaknya untuk membangun daerah tercinta. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengelola potensi daerah tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuhkan rasa bangga putera daerah terhadap “hak miliki” yang memang telah dimilikinya tersebut.
  2. Kemas seluruh potensi yang ada secara kreatif, sehingga menarik untuk di lirik oleh orang lain.
  3. Semua kemasan yang akan “dijual” harus dikelola secara sungguh-sungguh dan profesional, sehingga tidak terkesan asal-asalan.
  4. Promosikan berbagai potensi daerah tersebut dengan berbagai cara, mulai membuat brosur dan liflet yang didistribusikan di hotel-hotel, pesawat, atau fasilitas-fasilitas wisata yang sekarang sudah ramai dikunjungi para wisatawan.
  5. Buat website wisata Banjarnegara dalam berbagai bahasa terutama bahasa inggris, agar bisa diakses oleh masyarakat dunia.
  6. Promosikan di TV-TV swasta nasional atau regional untuk mengenalkan potensi Banjarnegara

Menggagas PERPUSDA sebagai tempat wisata

November 28, 2009

Menggagas Perpustakaan sebagai tempat wisata

Konsep perpustakaan sebagai tempat belajar masyarakat nampaknya perlu dikemas ulang dengan lebih mendekatkan diri dengan kebutuhkan masyarakat. Kabutuhan masyarakat untuk membaca ditengarai masih sangat memprihatinkan. Bukan saja itu terjadi pada masyarakat petani pedesaan yang memang keseharian hidup mereka jauh dari buku, namun rendahnya minat baca juga terjadi pada kalangan pegawai menengah keatas yang notebene pekerjaan mereka sehari-hari bergulat dengan buku. Nampaknya membaca belum menjadi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain kehidupan masyarakat akan hiburan semakin hari semakin meningkat. Hal ini bukan saja dirasakan oleh kalangan masyarakat menengah ke atas, namun juga menggejala pada kehidupan masyarakat kalangan bawah. Lihat saja setiap kali liburan tiba, bisa dipastikan tempat-tempat wisata menjadi tempat favorit bagi mereka untuk berkumpul dan bersantai. Bahkan bukan saja tempat-tempat wisata, namun juga tempat-tempat santai seperti alun-alun, kedai makan, pegunungan dan sebagainya juga menjadi tempat favorit keluarga untuk melepaskan lelah setelah sepekan bekerja.

Selain itu tempat bermain juga menjadi tempat yang sangat diminati keluarga untuk berlibur. Arena bermain anak-anak seperti di Milenium dan Dieng sangat laris dikunjungi walaupun tempatnya sangat sempit. Bagaimana dengan PERPUSDA?

PERPUSDA yang seharusnya menjadi tempat favorit no 1, nyatanya menjadi tempat yang kurang diminati oleh masyarakat untuk berkumpul ataupun berlibur. PERPUSDA hendaknya telah mulai membuat format perpustakaan menjadi tempat berlibur, tempat bekumpul dan juga tempat favoritnya masyarakat untuk melepas capai selama sepekan bekerja.

PERPUSDA bisa saja bekerja sama dengan kedai ayam Bu Masyur, atau jujugan serayu untuk mendekatkan buku-buku kepada masyarakat yang ingin menikmati santainya makan di warung seperti itu. PERPUSDA bisa juga membangun tempat bermain anak-anak dengan format arena bermain dan belajar. Atau juga bisa menggabungkan berbagai format di atas, yaitu: Taman baca yang santai, ada warung makan yang setia menemani masyarakat saat membaca, dan disediakan juga arena bermain untuk anak-anak. Dengan demikian PERPUSDA menjadi taman hiburan bagi keluarga siapa saja yang menginginkan untuk berlibur memanfaatkan waktu luang.

Terima kasih


Membangun Banjarnegara dari dunia pendidikan

November 17, 2009

Mermbangun SDM

Seluruh negara maju di dunia ini melakukan upaya membangun dari peningkatan SDM. Lihat negara-negara eropa yang bermula dari revolusi di Inggris. Pada waktu itu Inggris melakukan revolusi besar-besaran dengan mengubah kebijakan dari tenaga padat karya menjadi tenaga mesin. dalam kasus ini mungkin pada saat itu manusia atau warga negara merasa disingkirkan oleh mesin. Namun dibalik itu sejak saat itu bangsa eropa melakukan belajar keras untuk dapat tetap exis. Mereka terus belajar agar dapat mengoperasionalkan mesin-mesin tersebut sehingga mereka tetap terus bisa bekerja.

Lihat Bangsa Jepang, sesaat setelah kehancurannya pasca Perang Dunia ke-2 mereka segera menggiatkan pendidikan untuk menggenjot ketertinggalannya. Banyak para pemuda dikirim ke eropa dan Amerika untuk melakukan proses belajar. Setelah mereka pintar lantas pulang untuk membangun negaranya. Dan Sekarang bisa kita lihat bahwa Jepang adalah salah satu negara termaju di dunia ini.

Barangkali tidak berlebihan jika Banjarnegara ingin menjadi daerah yang maju, maka yang perlu mendapatkan prioritas adalah membangun Sumber daya Manusia melalui pendidikan.

Pendidikan murah barangkali belumlah cukup menjawab tantangan itu semua. Karena pembangunan yang berkualitas adalah yang menjadi lebih berarti. Ibarat membangun sebuah gedung, Jika gedung yang dibangun tidak berkualitas karena harganya murah tentu hanya akan bertahan dalam waktu yang singkat, dan dalam periode waktu tertentu justru akan menjadi beban bagi pemiliknya.

Begitu pula membangun SDM yang kurang berkualitas, dalam waktu dekat mungkin menguntungkan dengan pelayanan yang ringan dan biaya murah. Namun demikian, dalam periode tertentu justru mereka akan menjadi beban daerah.


Hakekat Membangun

November 17, 2009

Dalam bahasa sesehari kita, kata membangun memuat pengertian menegakkan, menyusun dan membuat susunan itu berdiri di atas bumi. Mungkin kata ini diambil dari ranah (domain) domestik ketika manusia harus menegakkan rumah dan membangun dunia kecil yang ia kuasai di sekeping tanah di muka bumi. Dan sementara itu, rumah adalah bangunan pertama yang manusia bangun, sebelum ia mengenal dan membangun ‘rumah sakit’, ‘rumah makan’, ‘rumah tahanan’, ‘rumah ibadah’ dan ‘rumah-rumah’ yang lain. Artinya, kegiatan membangun adalah salah satu kegiatan yang eksistensial bagi tegaknya manusia berada di muka bumi.
Bangunan, pertama-tama adalah produk kegiatan teknis (sudilah mengingat pengertian ‘tekhne’ yang menurunkan istilah ‘teknis’ ini, sebagaimana ditulis

Hakekat membangun

Heidegger dalam “Building Dwelling Thinking”, 1954), sebelum kemudian ditafsir atau dibaca sebagai sebuah teks dalam semiotika dan diperlakukan sebagai simbol yang bermakna. Dengan menyebut arsitektur sebagai bangunan, ini adalah usaha untuk mengembalikan dia pada aspek materialnya.
Secara teknis, menegakkan bangunan adalah semacam perjuangan sebagai perlawanan terhadap gravitasi, sebab semua bahan yang manusia pilih dari alam, untuk disusun dan ditegakkan sebagai unsur bangunan itu memiliki kecenderungan untuk rebah ke tanah. Melalui Galileo dan Newton kita diberitahu tentang konsep gaya, energi dan daya. Kita juga diberitahu bahwa suatu struktur bisa berdiri dan tidak kolaps itu karena ada konfigurasi yang seimbang dari gaya-gaya yang bekerja padanya. Setiap struktur yang stabil selalu dapat digambarkan diagram dari gaya beban yang bekerja, beserta gaya lain yang mengimbanginya.

Kegiatan membangun adalah upaya menangani itu, melawan kecenderungan alamiah untuk rebah itu. Kejelian seseorang memilih dan mengenali tabiat bahan bangunan serta ketrampilannya menangani gaya-gaya yang bekerja pada hubungan unsur bangunan satu dengan yang lain menjadi taruhan tegaknya bangunan tadi. Sambungan (joint) adalah jantung persoalan ini. Apaboleh buat, manusia pembangun hanya bisa menurut pada kemampuan yang bisa diberikan oleh bahan bangunan yang ada padanya, sehingga perkara mengoptimalkan kemampuan bahan hingga sampai pada batas-batasnya adalah perkara penting bagi manusia pembangun.

Manusia pembangun di sini adalah para tukang, dan setiap orang pada mulanya adalah tukang bagi dirinya sendiri. Tukang dan ketukangannya, craft and craftmanship adalah batu penjuru dari proses membangun, suatu peran penting dalam kebudayaan yang sering dikecilkan oleh praktik dan pengajaran arsitektur masa kini.

Bila kebudayaan adalah buah dari penciptaan tempat (place), maka ketika seseorang menetap di sebidang tanah di muka bumi dan, dengan menggunakan peralatan dan bahasa, menegakkan batas-batas teritori ruangnya, maka sebenarnya ia tengah menciptakan dunia bagi dirinya.

Kembali menghargai peran tukang adalah sebentuk kesadaran bahwa kultur membangun itu bermula dari hasrat eksistensial manusia untuk tegak di muka bumi, di tempatnya. Bangunan, dengan demikian, adalah “tempat” dan sekaligus “buah” manusia menjalankan aktivitas budayanya.


Hello world!

November 16, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.